Pemahkah kalian mencoba menulis naskah drama? Menulis drama
tidak jauh berbeda dengan menulis cerita pendek maupun prosa. Hal yang berbeda
adalah bentuk penyajiannya. Cerita dalam drama disajikan dalam bentuk dialog
dan para pelakunya.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun naskah drama
meliputi berikut.
- Tema, Tema harus relevan dengan tujuan pementasan.
- Konflik, Konflik cukup tajam ditandai oleh plot yang penuh kejutan dan dialog yang mantap.
- Watak, Watak pelaku memungkinkan pertentangan yang memungkinkan ketajaman konflik.
- Bahasa, Bahasa yang digunakan mudah dipahami atau komunikatif.
- Mempunyai kemungkinan pementasan.
Kreativitas penulisan hendaknya dikembangkan berdasarkan
keaslian ide dan pemikiran, imajinasi, atau perasaan kalian sendiri. Naskah
yang kita tulis bukan merupakan jiplakan atau contekan dari naskah orang lain.
Penggunaan naskah atau buku lain sebagai referensi diperbolehkan, asalkan
jangan sampai mengurangi keaslian ide kalian. Penulisan drama dapat kita awali dengan sebuah prolog sebagai pengantar dan epilog
sebagai penjelasan akhir cerita.
Dalam menyusun dialog, pengarang harus benar-benar
memerhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari. Pembicaraan
yang ditulis oleh pengarang naskah drama adalah pembicaraan yang akan diucapkan
dan harus pantas diucapkan di atas panggung. Bayangan pentas di atas panggung
merupakan timan dan kehidupan sehari-hari, maka dialog yang ditulis juga
mencerminkan pembicaraan sehari-hari.
Ragam bahasa dalam dialog tokoh-tokoh drama adalah bahasa
lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis. Hal ini disebabkan karena
drama adalah potret kenyataan. Nuansa dialog mungkin tidak lengkap dan akan
dilengkapi oleh gerakan, musik, ekspresi wajah, dan sebagainya.
Pelukisan watak pemain dapat langsung pada dialog yang
mewujudkan watak dan perkembangan lakon, tapi banyak juga dijumpai pada catatan
samping (catatan teknis atau keterangan). Kesempurnaan sebuah naskah drama akan
terlihat setelah dipentaskan.