Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 November 2013

Masuknya Islam Di Nusantara


Islam masuk ke Nusantara melalui pedagang Arab, Gujarat, dan China. Sejak abad ke-8 orang Arab sudah berlalu lalang melakukan kegiatan perdagangan ke India dan China. Dalam perjalanannya menuju China seringkali mereka singgah beberapa bulan di Indonesia. Pada abad ke- 15 pedagang Islam dan Gujarat, India Selatan, meramaikan kegiatan ini.

Perlu kita ketahui bahwa pada abad ke-15 Islam sudah menguasai India. Gujarat adalah daerah di India Selatan. Di samping pedagang dan Arab dan Gujarat, pedagang Muslim dan China juga ikut datang di Indonesia. Perlu kita ketahui pula bahwa penduduk China bagian barat telah memeluk Islam sejak abad ke-7.

Dalam melakukan usaha perdagangan menuju China dan sebaliknya tersebut, mereka selalu melewati perairan Malaka. Mereka singgah di pantai timur pulau Sumatra bagian utara. Diperkirakan sejak abad ke 10 pedagang-pedagang Islam sudah ada yang menetap di pusat-pusat perdagangan di kepulauan Indonesia terutama di pulau-pulau di sekitar selat Malaka.

Berdasarkan catatan Ibnu Batutah, musafir asal Maroko, pada abad ke-13 terdapat permukiman orang-orang Islam di Perlak dan Samudra Pasai di timur laut pantai Sumatra. Hal ini menunjukkan bukti bahwa telah terjadi pengislaman secara alamiah pada penduduk Indonesia melalui kegiatan perdagangan.

Proses pengislaman orang-orang Indonesia tersebut tidak dilakukan melalui peperangan atau penaklukan oleh pasukan Islam dan luar Indonesia tapi melalui jalinan perdagangan. Para pedagang Muslim, di samping berdagang juga berdakwah. Di sela-sela transaksi dagang, mereka mengajak kolega-kolega dagangnya untuk memeluk agama Islam. Dengan ajakan yang penuh hikmah dan teladan yang baik, banyak teman dagangnya beserta keluarganya dan orang-orang di sekitarnya mau memeluk agama Islam secara suka cita dan suka rela.

Secara umum proses pengislaman bangsa Indonesia dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut:


1. Melalui ajakan. Para pedagang yang singgah beberapa bulan di daerah-daerah pantai kepulauan Indonesia mengajak teman-teman dagangnya untuk mengenal, memahami, dan memeluk agama Islam. Melalui kegiatan ini banyak penduduk yang tertarik dengan agama baru ini lalu menjadi pemeluk Islam yang taat.
2. Melalui perkawinan. Para pedagang dari Arab, Gujarat, dan China tak jarang menikahi perempuan-perempuan Indonesia. Dengan pernikahan ini maka terbentuklah keluarga-keluarga Muslim yang kemudian menurunkan keluarga-keluarga Muslim pula secara bergenerasi. Dalam perkembangan berikutnya mereka membentuk masyarakat Muslim yang makin besar.

3. Melalui pendirian lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren, meunasah, surau, dan lain-lain. Ada sebagian pedagang yang melakukan dakwah Islam dengan cara mendirikan lembaga pendidikan. Dalam lembaga pendidikan ini mereka mendidik anak anak untuk dijadikan pribadi-pribadi Muslim yang tangguh dan kader-kader juru dakwah yang handal di kemudian han.

4. Melalui kegiatan budaya. Para pedagang mengganti isi budaya lokal dengan jiwa tauhid tanpa mengubah bentuk luarnya. Misal, upacara pemberian sesaji untuk roh leluhur atau halus diubah menjadi pemanjatan doa untuk keluarga yang sudah meninggal dunia, pembacaan mantera-mantera untuk mengusir roh jahat diubah dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an, dan lain-lain.
Di samping itu, para pedagang juga mengembangkan seni budaya yang mengandung ajaran tauhid tapi dikemas dengan seni buðaya lokal. Misalnya, pantun dan syair, musik Melayu, lagu-lagu Jawa, dan lain-lain yang semula bernapaskan Hindu atau Buddha digubah menjadi bernapaskan tauhid.

5. Melalui pendirian kesultanan Islam oleh penduduk asli. Dengan makin banyaknya penduduk asli yang memeluk Islam maka terbentuklah masyarakat Muslim dan kalangan penduduk asli tersebut. Masyarakat Muslim yang telah terbentuk ini lalu mendirikan sistem pemerintahan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meraih cita-citanya. Maka berdirilah kesultanan-kesultanan Islam. Kesultanan-kesultanan Islam ini lalu menyebarkan Islam kepada seluruh rakyatnya.

Masuknya Islam di Indonesia dipercepat dengan berdirinya kesultanan-kesultanan Islam di Indonesia. Mula-mula berdiri kesultanan Islam di pulau Sumatra yaitu di Samudra Pasai dan Aceh. Kemudian berdiri kesultanan Islam di pulau Jawa yaitu di Demak, Pajang, Mataram, Banten, dan Cirebon. Kesultanan Islam juga berdiri di pulau Sulawesi seperti di Goa, Tallo, Bone, Wajo, Soppeng, dan Lawu. Di Kepulauan Maluku juga berdiri kesultanan Islam seperti di Ternate dan Tidore. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas atas peran masing-masing kesultanan Islam tersebut dalam menyebarkan Islam di Nusantara ikutilah link-link yang tersedia di bawah ini;

Kerajaan Islam di Pulau Sumatera


A. Kesultanan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai berdiri pada abad ke-13, tepatnya pada 1285 M. Kerajaan ini terletak di Pasai, Lhokseumawe, pantai timur taut Sumatra di ujung utara. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh seorang Laksamana Angkatan Laut dari Mesir bernama Nazimuddin Al-Kamil. Ia lalu mengangkat Marah Silu sebagai sultan pertama. Setelah dilantik sebagai sultan, Marah Silu bergelar Sultan Malik As-Saleh.

Sepeninggal Sultan Malik As-Saleh, Kerajaan Samudra Pasai diteruskan oleh Sultan Malik Tahir, anaknya. Sultan Malik Tahir adalah sultan yang taat beragama dan giat berdakwah. Baginda membangun Masjid dan banyak meunasahl surau di seluruh pelosok negeri. Dengan demikian, Islam tersebar sampai ke desa-desa.

Pada masa pemerintahan Sultan Malik Tahir inilah Kerajaan Samudra Pasai mengalami kejayaan. Rakyat mengalami kemakmuran dan kehidupan beragama semarak. Hal ini dilukiskan oleh seorang musafir, Ibnu Batutah dari Maroko yang membuat catatan dalam buku hariannya sebagai berikut: “Sultan adalah pengikut agama Islam yang saleh. Baginda dan rakyatnya adalah pengikut Mazhab Syafi’i. Pada Jumat, Baginda pergi ke masjid dengan berjalan kaki yang diikuti oleh rakyatnya. Saat pulang dan masjid, Baginda menunggang gajah dengan beberapa pengawal saja. Rakyat sangat menghormati sultannya. Kehidupan rakyat tampak makmur.”

Setelah Sultan Malik Tahir meninggal, Kerajaan Samudra Pasai diteruskan oleh Zainal Abidin, anaknya. Pada masa pemerintahan Zainal Abidin, Kerajaan Samudra Pasai mengalami kemunduran. Hal ini terjadi karena adanya persaingan di antara keluarga istana yang menyebabkan salah urus pemerintahan. Akibatnya pemerintah pusat menjadi lemah yang akhirnya mendorong daerah-daerah di bawah kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai berusaha melepaskan diri dengan cara melakukan pemberontakan. Di samping itu, juga terjadi serangan dari Majapahit yang melakukan politik perluasan wilayah ke seluruh Nusantara. Pada abad ke-15 nama Kerajaan Samudra Pasai sudah tidak terdengar lagi.

B. Kesultanan Aceh

Pada abad ke-16 muncul Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh terletak di Kotaraja, Banda Aceh. Semula, Kerajaan Aceh hanyalah sebuah kerajaan kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Pedir. Seiring dengan dikuasainya Malaka oleh Portugis pada 1511, banyak ulama dan pejuang Islam di Kerajaan Malaka mencari suaka politik di Kerajaan Aceh ini. Dalam perkembangan berikutnya, Kerajaan Aceh menjadi sebuah kerajaan yang makin kuat karena didukung oleh banyak pejuang militan dan orang cerdik cendekia.

Sultan Ali Mugayat Syah mulai menata pemerintahannya. Pejabat yang mengurus bidang agama mendapat perhatian. Penghulu, imam masjid, imam surau/meunasah, dan pejabat agama tingkat desa/ gampong diangkat. Sejalan dengan itu, puluhan masjid dan ratusan meunasah didirikan. Dengan demikian, agama Islam dipeluk oleh semua rakyatnya dan telah menjadi agama rakyat, bukan hanya milik sultan dan kerabatnya.

Sultan Kerajaan Aceh yang sangat terkenal adalah Sultan Iskandar Muda yang berkuasa pada 1607-1636 M. Pada masa Sultan Iskandar Muda inilah Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kerajaan makin luas yang mencapai semenanjung Malaka seperti Kedah, Perak, dan Pahang. Kehidupan rakyat makin makmur. Dakwah Islam makin giat dan pengamalan keagamaan rakyat makin meningkat.

Sepeninggal Sultan Iskandar Muda pada 1636, Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Tsani, anaknya. Ternyata kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani tak secakap bapaknya. Pemerintahan makin lama makin tidak efektif. Akibatnya pemerintah tak bisa memajukan kehidupan rakyat. Rakyat banyak yang tidak puas atas pemerintahan sultan dan kerabatnya. Kondisi ini terus berlanjut sehingga kerajaan menjadi sangat mundur.

Kondisi Kerajaan Aceh semakin melemah pada awal abad ke-17. Sejak itu, secara berangsur-angsur Kerajaan Aceh tidak bisa bertahan dan akhirnya hanya tinggal nama saja.

C. Kesultanan Siak Sri Indrapura

Di daerah Riau pada tahun 1723 M berdiri kesultanan Islam Siak Sri Indrapura. Kesultanan ini didirikan oleh Abdul Jalil Rahmat Syah atau Raja Kecil, putra Sultan Mahmud II, penguasa Johor, Malaysia. Kesultanan ini menjadi pusat penyebaran Islam di Sumatra Timur.

Abdul Jalil atau Raja Kecil digantikan oleh anaknya, Abdul Jalil Muzaffar Syah (1746-1760). Pada masa pemerintahan Abdul Jalil Muzaffar Syah ini, Kesultanan Siak melawan Belanda yang ingin memonopoli perdagangan. Kesultanan Siak berhasil memenangkan peperangan ini dan dapat memaksa Belanda mundur dan wilayahnya. Akan tetapi, pada peperangan yang kedua pada 1858, Kesultanan Siak terpaksa menandatangani Traktat Siak. Isi Traktat sangat merugikan Kesultanan Siak. Sebagian isinya adalah bahwa Belanda mengakui otonomi Kesultanan Siak tapi Siak harus menyerahkan 12 daerah taklukannya. Sejak ditandatanganinya Traktat Siak ini berangsur-angsur Kesultanan Siak mengalami kemunduran.

Sultan terakhir Siak adalah Syarif Qasim II, yang memerintah 1908-1946. Sultan Syarif Qasim II mempunyai pandangan yang modern. Beliau mendirikan sekolah dasar (HIS) pada 1915 untuk anak-anak pribumi tanpa membedakan status sosialnya dan Madrasah Al Hasyimiyah (1917). Juga sekolah untuk perempuan Latfah School (1926) dan Madrasah An-Nisa (1929). Sultan Syarif Qasim II pada 1946 menyerahkan sepenuhnya daerah kesultanannya kepada pemerintah Republik Indonesia. Atas jasanya nama Sultan Syarif Qasim II diabadikan menjadi nama IAIN Pekanbaru, Riau.

Kerajaan Islam di Pulau Sulawesi

Di Sulawesi juga berdiri beberapa kesultanan Islam pada abad ke-16. Kesultanan Islam yang terkenal adalah Goa dan Tallo. Orang menyebutnya sebagai Kesultanan Makassar. Kedua kesultanan ini sangat besar jasanya dalam penyebaran Islam di daerah Sulawesi Selatan khususnya dan Sulawesi umumnya. Di samping kedua kesultanan tersebut juga ada Kesultanan Bone, Wajo, Soppeng, dan Lawu.

Kesultanan Goa dan Tallo adalah kesultanan merdeka yang makmur. Keduanya menjalankan politik bebas artinya bebas berhubungan dengan pihak manapun atas dasar kerjasama yang saling menguntungkan. Oleh karena itu, mereka menolak bekerja sama dengan Belanda yang hendak memaksakan sistem monopoli perdagangan. Sultan Alaudin dari Goa menolak dengan keras maksud Belanda tersebut.

Pada 1639 M Sultan Alaudin wafat. Kesultanan diteruskan oleh anaknya, Muhammad Said. Sultan Muhammad Said meneruskan kebijakan ayahnya yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Berkali-kali Belanda datang menyodorkan kerja sama perdagangan tapi selalu ditolak.
Pada 1653 M Sultan Muhammad Said wafat. Beliau digantikan oleh putranya, Hasanudin. Dalam menghadapi Belanda sikap Sultan Hasanudin sama dengan sikap ayah dan kakeknya, yaitu sama-sama anti-Belanda. Bahkan sikap Sultan Hasanudin lebih tegas lagi. Sultan Hasanudin menyerang benteng Belanda.

Menghadapi serangan Sultan Hasanudin, Belanda sangat kewalahan. Armada lautnya kocar kacir Pasukannya banyak yang terbunuh dalam peperangan laut. Melihat keberanian dan kegigihan Sultan Hasanudin demikian, Belanda memberi julukan kepadanya sebagai de Haav van de Osten, artinya ayam jantan dari timur.

Untuk menghadapi perlawanan Hasanudin yang gigih tersebut Belanda menggunakan politik adu domba, devide et impera. Belanda membujuk Raja Bone, Aru Palaka agar menyerang Makassar. Aru Palaka termakan bujuk rayu Belanda tersebut. Ia akhirnya menyerang Makassar dengan bantuan Belanda.

Aru Palaka mau menyerang Makassar karena dendam dan ambisi pribadi. Aru Palaka dan Hasanudin adalah raja yang saling bersaing pengaruh dan berambisi memperluas kekuasaan. Dalam persaingan tersebut Hasanudin lah yang menang. Aru Palaka dijadikan bawahan Hasanudin. Tampaknya Aru Palaka tidak menerima perlakuan Hasanudin terhadap dirinya dan rakyat Bone yang pernah dijadikan pekerja untuk membangun benteng di Makassar.

Kali ini Hasanudin kewalahan menghadapi pasukan gabungan, Bone dan Belanda, tersebut. Pasukan Hasanudin makin terdesak dan akhirnya menyerah. Belanda kemudian memaksa Hasanudin untuk menandatangani perjanjian yang terkenal dengan Perjanjian Bongaya. Isinya antara lain, Makassar tidak boleh berhubungan dengan bangsa asing kecuali Belanda untuk urusan perdagangan dan mengakui kekuasaan VOC di Makassar.

Selasa, 12 November 2013

Kerajaan Islam di Pulau Jawa


A. Kerajaan Demak

Kesultanan Islam pertama yang berdiri di pulau Jawa adalah Kesultanan Demak. Kesultanan Demak didirikan di Desa Glagah Wangi. Daerah ini terletak di tepi pantai utara pulau Jawa, sekarang termasuk wilayah Provinsi JawaTengah. Pada saat itu, daerah ini termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Demak muncul sebagai kerajaan Islam di pulau Jawa berhubungan dengan munculnya masyarakat Islam di daerah pesisir/pantai utara pulau Jawa. Hal ini terjadi karena makin banyaknya para pedagang Muslim yang berkunjung di daerah ini seperti Surabaya, Gresik, Tuban, Jepara, dan Demak. Berawal dan hubungan dagang inilah lalu banyak orang Jawa tertarik memeluk agama yang dibawa pedagang Muslim tersebut, rela meninggalkan agama lamanya yaitu Hindu atau Buddha. Di sini tokoh-tokoh yang sangat berjasa memperkenalkan Islam kepada orang Jawa adalah para Wali yang jumlahnya sembilan (wali sanga).

Salah satu murid Sunan Ampel adalah Raden Patah, anak Raja Majapahit (Brawijaya) dengan salah satu istrinya yang berasal dan Campa (sekarang di perbatasan Kamboja dan Vietnam) yang beragama Islam. Sebagai anak raja, Raden Patah diberi tanah jabatan di Desa Glagah Wangi. Pada waktu yang bersamaan, Kerajaan Majapahit makin lemah akibat pemberontakani terus menerus yang dilakukan antar anak keturunan Prabu Hayam Wuruk. Dengan keadaan seperti ini, Raden Patah dengan dukungan para tokoh Islam yang sering dikenal dengan Wali Sanga, mendirikan kerajaan Islam di tanah jabatannya tersebut.

Kerajaan Demak makin hari makin kuat. Sebaliknya Kerajaan Majapahit makin lemah dan akhirnya hancur. Wilayah Kerajaan Demak terus meluas. Ke timur sampai Surabaya. Ke barat, sampai Banten. Ke selatan, sampai Yogya dan Ponorogo. Bahkan kekuasaannya sampai menyeberang ke Palembang dan Banjarmasin.

Raden Patah terus melakukan pembenahan pemerintahannya dan meningkatka dakwah Islam. Para penasihat agamanya Wali Sanga, menyodorkan strategi dakwah Islam yang jitu. Mereka mengajukan rencana dakwah Islam melalui pendekatan budaya, bukan dengan pendekatan militer atau kekerasan fisik. Raden Patah rnenyetujuinya. Dengan demikian, dakwah Islam di pulau Jawa dilakukan dengan kerja budaya, seperti memasukkan ajaran Islam lewat dongeng-dongeng yang hidup di kalangan rakyat seperti cerita Aji Saka, Dewa Ruci, dan Amir Hamzah; mengisi ritual Hindu atau Buddha dengan inti ajaran tauhid tanpa mengubah bentuk luarnya seperti selamatan kematian 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari; menggunakan wayang sebagai sarana dakwah; menciptakan upacara-upacara Islam dengan corak Jawa seperti Selikuran (peringatan Nuzulul Quran), Riyaya (salat Idul Fitri), Grebeg Bakda (perayaan Idul fitri), Grebeg Besar (perayaan Idul Adha), Grebeg Maulid (perayaan memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw); menciptakan karya seni Islam bercorak Jawa seperti gamelan, lagu/gending jawa, parikan, syair, dan lain-lain.

Raden Patah digantikan oleh Adipati Unus yang dikenal dengan nama Patiunus, anaknya. Adipati Unus atau Patiunus adalah anak lelaki tertua Raden Patah yang semula menjabat sebagai Adipati/Bupati Jepara. Sebelum diangkat sebagai sultan, Patiunus dikenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor karena sempat memimpin armada perang Demak ke Selat Malaka untuk menyerang Portugis. Pangeran Sabrang Lor artinya pangeran yang berani menyeberangi laut Jawa untuk menyerang penguasa Kristen di Malaka. Peristiwa ini terjadi pada 1513 M, dua tahun setelah Portugis menduduki Malaka. Portugis menjuluki Pangeran yang gagah berani ini dengan sebutan Ayam Jantan dari Selatan.

Meskipun misinya ini gagal tapi jihad Patiunus tersebut, memberi semangat yang menyala-nyala kepada generasi berikutnya untuk terus melawan kekuasaan asing yang merampas hak-hak bangsa Indonesia. 

Patiunus memerintah tak lama, hanya dua tahun. Takhta kerajaan lalu diperebutkan oleh kedua adiknya: Pangeran Seda Lepen dan Raden Trenggono. Anak Raden Trenggono, Sunan Prawoto, membunuh pamannya, Pangeran Seda Lepen. Dengan terbunuhnya Pangeran Seda Lepen, maka RadenTrenggono naik takhta menjadi Sultan Demak menggantikan Patiunus.
Raden Trenggono melanjutkan kebijakan yang telah diambil kakaknya. Perluasan wilayah terus dilakukan sehingga hampir semua wilayah di pulau Jawa berada di bawah kekuasaannya. Dakwah Islam terus ditingkatkan sehingga Islam menjadi agama orang Jawa.
Sultan Trenggono wafat ketika melakukan serangan ke Kerajaan Hindu, Blambangan. Baginda dibunuh oleh salah seorang pengawalnya yang berkhianat. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1546 M.

Wafatnya Sultap Trenggono secara mendadak tersebut, menimbulkan kekacauan di pusat kekuasaan. Anggota keluarga inti kerajaan melakukan perebutan kekuasaan. Arya Penangsang, anak Pangeran Seda Lepen, membunuh Sunan Prawoto. Sunan Prawoto adalah anak Sultan Trenggono yang dulu membunuh ayah Arya Penangsang (Pangeran Seda Lepen). Perebutan kekuasaan ini akhirnya dimenangkan oleh menantu Sultan Trenggono yaitu Jaka Tingkir atau Adiwijaya. Dalam suatu pertempuran Adiwijaya berhasil membunuh Arya Penangsang. Dengan demikian, takhta kerajaan dipegang oleh Adiwijaya.

Sultan Adiwijaya lalu memindahkan pusat kesultanan ke Pajang. Pajang adalah tempat kedudukan Adiwijaya sebagai bupati sebelum dinobatkan sebagai sultan. Pemindahan pusat kekuasaan ke Pajang didasarkan pada pertimbangan pada masih kuatnya penentangan para pengikut Arya Penangsang dan sebagian penasihat agama, Wali Sanga, yang tidak setuju dengan pengangkatan Adiwijaya sebagai Sultan Demak.

B. Kesultanan Pajang

Dengan pemindahan pusat pemerintahan dari Demak ke Pajang maka berdirilah Kesultanan Pajang di dekat Surakarta sekarang. Sultan Adiwijaya sebagai sultan pertama. Baginda mulai membangun kerajaannya mulai dari nol.

Dalam perkembangannya Kesultanan Pajang mempunyai ciri yang berbeda dengan Kesultanan Demak. Kesultanan Demak bercirikan budaya pesisiran yaitu lebih demokratis, tidak menciptakan hubungan bertingkat-tingkat antara satu status dengan status lain, lebih rasional, dan mengutamakan nilai Islam murni. Adapun Kesultanan Pajang lebih bercirikan budaya pertanian dan pedalaman. Ciri-cirinya adalah penuh dengan pandangan mistik, tidak rasional, menciptakan hubungan bertingkat antara orang penting dengan orang tidak penting, feodalistik, mencampurkan antara nilai-nilai kejawen, Hindu-Buddha, dan Islam.

Sultan Adiwijaya memerintah sampai dengan 1582 M. Beliau menyerahkan kekuasaan kepada Aryo Pangiri, menantunya (penguasa Demak). Aryo Pangiri adalah anak Pangeran Prawoto atau cucu Sultan Trenggono. Aryo Pangiri lalu mengangkat Pangeran Benowo, anak Adiwijaya menjadi Bupati Jipang, sebuah wilayah di bawah Kesultanan Pajang.

Pangeran Benowo sangat kecewa pada Aryo Pangiri karena hanya diangkat sebagai bupati. Pangeran Benowo merasa berhak menjabat sebagai sultan menggantikan ayahnya. Ia lalu minta bantuan pada Sutawijaya, saudara angkatnya yang berkuasa di Mataram untuk melawan Aryo Pangiri. Duet Pangeran Benowo dan Sutawijaya akhirnya dapat mengalahkan Aryo Pangiri.

Dalam perkembangan berikutnya, Sutawijaya mendominasi pemerintahan Pajang. Ia memang lebih cakap dan lebih berani daripada Sultan Benowo yang lebih cenderung sebagai kiai/ulama. Menyadari kelemahannya, Sultan Benowo lalu mengundurkan din dari kehidupan politik. Ia lalu menekuni profesi sebagai juru dakwah agama Islam. Ia menyerahkan takhta kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian mengangkat Gagak Bening. Pajang akhirnya sepenuhnya di bawah kendali Mataram.

C. Kesultanan Mataram

Kesultanan Mataram didirikan oleh Senopati atau Sutawijaya pada 1582 M. Pusat kekuasaannya terletak di daerah selatan Yogyakarta sekarang. Semula ia hanyalah bawahan Pajang. Ia diangkat oleh Sultan Adiwijaya untuk membina masyarakat di daerah Mataram. Setelah Adiwijaya wafat, ia menguasai Pajang dengan cara pertama membantu Pangeran Benowo mengalahkan Aryo Pangiri dan kedua mengganti Pangeran Benowo dengan Gagak Bening. Melalui cara ini, ia lalu menjadikan Pajang sebagai wilayah di bawah kekuasaannya dan mengangkat diri sebagai Sultan Mataram.

Sutawijaya membangun Kerajaan Mataram dan nol. Masa pemerintahannya disibukkan oleh upaya menstabilkan pemerintahannya. Ia menghadapi perlawanan dari para bupati pesisir seperti Demak, Tuban, Pasuruan, dan Surabaya. Akan tetapi, ia dapat menyelesaikan dengan baik kecuali Surabaya.

Sutawijaya wafat pada 1601 M. Ia digantikan oleh Mas Jolang atau Panembahan Krapyak, anaknya. Mas Jolang mewarisi pemerintahan yang belum stabil. Meskipun Madiun dan Kediri yang ikut memberontak sudah bisa ditundukkan tapi Surabaya belum mau tunduk. Ia sempat minta bantuan pada VOC, kongsi dagang Belanda di Batavia, untuk membantu menundukkan Surabaya tapi tidak mendapat tanggapan.

Raden Mas Jolang/Panembahan Krapyak wafat pada 1613 M. Ia digantikan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sultan Agung berhasil membangun Mataram menjadi kerajaan besar yang stabil dan kuat. Ia dapat menundukkan Surabaya. Dengan demikian, seluruh wilayah Jawa bagian timur berada di bawah kekuasaannya.

Baginda mempunyai ambisi yang kuat untuk menguasai seluruh Jawa. Oleh karena itu, Sultan Agung ingin menundukkan Banten, kesultanan yang masih merdeka, dan Batavia yang sudah dikuasai oleh Belanda melalui bendera VOC.

Sultan Agung sangat benci pada VOC, karena VOC melakukan praktik monopoli perdagangan yang sangat merugikan Mataram dan rakyat pada umumnya. Oleh karena itu, beliau bertekad mengusir VOC dari tanah Jawa. Untuk merealisasikan tekadnya tersebut, beliau melakukan persiapan penyerangan yang matang. Beliau melatih prajurit-prajurit yang handal dan sakti mandraguna, memilih panglima perang yang handal, dan melengkapi prajurit dengan persenjataan yang cukup.

Di samping itu, beliau juga mempersiapkan bahan pangan yang cukup sebagai persiapan untuk peperangan jangka panjang/memakan waktu lama. Sebelum penyerangan dilakukan, beliau mengirim ribuan petani untuk membuka lahan pertanian di sepanjang garis pantai mulai dari Kendal sampai Bekasi. Beliau memberi perintah kepada para petani tersebut untuk membuat lumbung-lumbung padi di daerah masing-masing sebagai cadangan bahan pangan bagi prajurit Mataram yang akan menyerang VOC.

Pada 1628 pasukan Sultan Agung melancarkan serangan ke Batavia melalui darat. VOC sangat kewalahan atas serangan yang dilancarkan dari berbagai arah ini. J.P Coen, Gubernur Jenderal VOC tewas dalam peristiwa ini. Belanda segera minta bantuan tentara dari Maluku. Dengan pasukan yang lebih besar, Belanda dapat melancarkan serangan balik. Pasukan Mataram mundur ke daerah Bekasi. Akan tetapi, betapa terkejutnya mereka ketika mendapatkan cadangan berasnya telah terbakar habis. Tampaknya para pengkhianat telah membocorkan rencana ini kepada Belanda. Akibatnya tentara Mataram tidak bisa bertahan lama. Serangan pertama ini gagal.

Sultan Agung tidak putus asa. Pada 1629 Sultan melancarkan serangan lagi kepada Belanda di Batavia. Belajar dan kegagalan serangan pertama, kali ini beliau membuat strategi baru. Tentara Mataram melancarkan serangan melalui laut. Tampaknya Allah swt belum berkehendak memberi kemenangan pada pasukan Sultan Agung ini. Serangan kedua pun gagal.

Setelah Sultan Agung wafat pada 1646 Kesultanan Mataram berangsur-angsur mengalami kemunduran. Hal ini terjadi karena adanya perebutan kekuasaan di kalangan istana dan campur tangan Belanda dalam pengangkatan sultan.

Sultan Agung berjasa dalam memadukan budaya Jawa dengan Islam. Kalender Jawa yang berdasarkan peredaran matahari diganti dengan dasar peredaran bulan (hijriah). Nama-nama bulan dan han Jawa disesuaikan dengan nama bulan dan hari dalam penanggalan hijniah. Beliau menyalin kitab-kitab syariat ke dalam bahasa Jawa. Beliau juga membuat kesenian Jawa yang bernapaskan Islam.

D. Kesultanan Cirebon dan Banten

Kesultanan didirikan oleh Fatahillah. Fatahillah adalah panglima perang Kesultanan Demak. Ia juga menantu Sultan Trenggono. Saat Sultan Trenggono berkuasa di Demak, ia memerintahkan Fatahillah menyebarkan Islam ke arah barat pulau Jawa di samping untuk membendung pengaruh Portugis yang sudah menjalin kerja sama dengan Kerajaan Hindu Pajajaran. Hal ini harus dilakukan karena pada 1522 Portugis telah datang di Pajajaran di bawah pimpinan Henrique Leme mengajak kerja sama perdagangan dan membendung pengaruh Islam Demak.
Pada 1526 Demak mengirimkan pasukan ke Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah. Misi ini membawa hasil gemilang. Cirebon dapat ditaklukkan dalam waktu singkat karena mendapat bantuan dan masyarakat yang sudah memeluk Islam. Fatahillah lalu melanjutkan ekspedisi ke Banten. Di Banten pun Fatahillah mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Dan Banten, ia kemudian melancarkan serangan kepada Portugis yang menguasai pelabuhan Sunda Kelapa (sekarang bernama Jakarta). Pada 22 Juni 1527 pasukan Fatahillah dapat mengalahkan pasukan Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa. Nama Sunda Kelapa lalu diubah menjadi Jayakarta, yang artinya kota kemenangan.

Fatahillah kemudian menjadi Sultan Cirebon. Akan tetapi, setelah berusia 60 tahun beliau lebih banyak mencurahkan perhatian pada kegiatan dakwah Islam. Beliau wafat dalam usia 80 tahun dan dimakamkan di Gunung Jati Cirebon.

Kesultanan diserahkan pada anak turunnya. Akan tetapi, keadaannya makin mundur. Pada zaman Mataram, Kesultanan Cirebon dikuasai Mataram. Kemudian oleh Susuhunan Mataram diserahkan kepada VOC Belanda.

Adapun Kesultanan Banten mengalami banyak kemajuan Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mencapai puncak kejayaannya Sultan Ageng sangat berkeinginan mengusir Belanda dari Batavia yang sejak 1602 berhasil merebut Jayakarta dan mengubahnya menjadi Batavia Sultan sangat tidak senang pada Belanda karena memaksakan sistem monopoli perdagangan.


Di pihak lain, Belanda juga ingin menaklukkan Sultan Ageng karena menolak monopoli perdagangan. Demi mencapai maksud ini, Belanda melakukan politik devide et impera, adu domba lalu kuasai. Belanda lalu merayu Sultan Haji, anak Sultan AgengTirtayasa untuk melawan ayahnya dengan imbalan akan dinaikkan takhta. Sultan Haji terbujuk rayuan Belanda tersebut. Ia lalu memberontak kepada ayahnya sendiri dengan bantuan Belanda. Sultan Ageng menyerah dan ditangkap oleh Belanda. Beliau lalu dibawa ke Batavia dan meninggal di sana pada 1680 M.

Kerajaan Islam di Kepulauan Maluku

Ternate Tidore
Kepulauan Maluku terdiri atas pulau-pulau yang terletak antara pulau Sulawesi di barat dan pulau Papua di timur. Di kepulauan Maluku berdiri kesultanan-kesultanan Islam yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia Timur. Kesultanan yang terkenal adalah Ternate dan Tidore. Di samping itu, masih ada beberapa kesultanan kecil yaitu Obi, Bacan, Halmahera, dan Makyan.

Kesultanan Ternate dan Tidore adalah dua kesultanan yang makmur. Keduanya aktif dalam mengembangkan dakwah Islam. Islam dapat tersebar dan dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Maluku sampai ke Papua bagian barat berkat jasa dua kesultanan ini. Ketenangan dan ketenteraman Ternate dan Tidore terusik ketika bangsa Barat datang ke wilayah ini. Bangsa Eropa yang pertama kali datang ke wilayah Maluku adaIah Portugis dan Spanyol. Bangsa Portugis dan Spanyol adalah bangsa yang pernah dijajah oleh orang Islam Arab pada abad ke-8 sampai dengan abad ke- 15. Ketika Portugis dan Spanyol menjumpai Islam di Maluku maka sikap dendam dan permusuhannya muncul.

Perlu kita ketahui bahwa dorongan Portugis pergi ke dunia Timur tidak persis sama dengan Belanda dan Inggris. Jika Belanda dan Inggris lebih dimotivasi mencari rempah-rempah demi mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar, Portugis dan Spanyol membawa semboyan Gold, glory and gospel atau Emas, Kejayaan, dan Agama.

Artinya Portugis dan Spanyol dalam membawa misi: mencari emas atau uang sebanyak-banyaknya, ya mendapatkan kemasyhuran sebagai bangsa hebat tak terkalahkan, dan menyebarkan ajaran Agama Kristen.

Di Maluku, Portugis mendekati Ternate sedangkan Spanyol mendekati Tidore. Di smi Portugis dan Spanyol terlibat bersekongkol untuk membuat kedua kesultanan ini berperang. Portugis seolah membantu Ternate dan Spanyol juga seolah-olah membantu Tidore.
Peperangan antara kedua kesultanan tersebut membuat keduanya lemah. Akhirnya kedua kesultanan tersebut masing-masing tergantung pada Portugis dan Spanyol: Ternate pada Portugis dan Tidore pada Spanyol.

Dalam perkembangan berikutnya Portugis makin mendikte Ternate. Sultan Hairun, penguasa Ternate tidak dapat menerima sikap Portugis yang ikut campur terhadap kebijakan Ternate. Sultan Hairun akhirnya melawan Portugis. Pasukan Ternate yang dibantu oleh rakyat dapat mendesak Portugis. Dalam kondisi terdesak Portugis minta diadakan perundingan di benteng Sao Paulo. Akhirnya keduanya sepakat untuk berunding. Delegasi Ternate dipimpin langsung oleh Sultan Hairun sedangkan delegasi Portugis dipimpin oleh Gubernur Portugis di Maluku, De Mosqitar. Akan tetapi, ketika perundingan tengah berlangsung tiba-tiba masuk pasukan Portugis dan menangkap Sultan Hairun lalu membunuhnya. Perbuatan Portugis seperti ini merupakan perbuatan biadab yang tidak sesuai dengan etika politik dan pergaulan mana pun di dunia.


Perbuatan biadab Portugis tersebut membuat marah seluruh rakyat Maluku. Putra Sultan Hairun, sultan Baabullah melawan Portugis mati-matian. Rakyat Ternate membantu Sultan dengan semangat yang menyala-nyala. Bahkan Sultan Nuku dan Tidore yang pernah angkat senjata melawan Ternate akibat provokasi Spanyol kali ini membantu Ternate melawan Portugis. Dengan adanya perlawanan serempak dan seluruh rakyat Maluku akhirnya Portugis hengkang dari Maluku.

Sabtu, 14 September 2013

Mengungkap Mantra Dari Sudut Pandang Karya Sastra



Indonesia merupakan sebuah Negara yang memiliki keanekaragaman budaya. Keanekaragaman ini merupakan kebudayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya. Hal ini tercermin dari begitu beragamnya masyarakat yang hidup di Nusantara ini. Setiap masyarakat tersebut memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut memiliki corak kebudayaan tersendiri sebagai cermin identitas kelompok. Satu diantara kebudayaan tersebut adalah sastra daerah. khususnya sastra lisan.
Sastra daerah khususnya sastra lisan sangat banyak dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Sastra lisan adalah produk masyarakat tradisional sehingga dapat disebut “sastra tradisional”. Oleh karena merupakan produk masyarakat tradisional, sastra lisan termasuk dalam kategori sastra lama.
Sastra lisan merupakan bagian sastra daerah yang diekspresikan oleh berbagai suku di Indonesia. Seperti daerah lain yang ada di Indonesia, suku-suku yang ada di Kalimantan Barat juga kaya akan kebudayaan daerah, terutama sastra lisan berupa mantra yang jumlahnya cukup besar.
Adapun yang dimaksud dengan Mantra adalah sederetan kata yang dapat diucapkan secara biasa maupun dinyayikan, dan kata-kata didalam mantra tersebut memiliki daya atau kekuatan gaib.
Mantra merupakan susunan kata-kata atau kalimat yang di anggap mengandung kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan seseorang sebagai media untuk berhubungan dengan kekuatan gaib, mantra tersebut dianggap sebagai perantara.
Mantra dianggap sebagai perantara manusia dengan alam gaib, yang menjadikan sesuatu yang tidak nyata menjadi nyata dan sebaliknya. Kekuatan gaib yang timbul di dalam mantra karena adanya keyakinan dari sang pembaca mantra tersebut. Proses penyebarannya melalui tuturan yang disampaikan dari mulut ke mulut. Pewarisan mantra secara turun-temurun hanya boleh dilakukan apabila sudah cukup umur dan harus memberikan pengkeras (syarat yang berupa jarum, pisau, garam, asam jawa, kain, sejadah, sarung, kopiah dan beberapa uang.
Lalu apa hubungan antara mantra dengan sastra? Jelas, di dalam mantra terkandung unsur keindahan, di dalam mantra terkandung unsur kesastraan. Mantra memiliki unsur-unsur antara lain; rima, irama, dan tentunya makna. Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik mantra maupun pada akhir larik mantra yang berdekatan. Irama adalah turun naiknya sebuah nada, atau tinggi rendahnya nada, panjang pendeknya nada tersebut. Irama juga bisa di artikan sebagai bentuk penekanan di dalam sebuah mantra. Sedangkan makna adalah hubungan antara lambang bunyi dengan acuannya. Setiap kata dalam mantra itu mengandung makna yang utuh. Keutuhan makna itu merupakan perpaduan dari empat aspek, yakni pengertian (sense), perasaan (feeling), nada (tone), dan amanat (intension). Memahami aspek itu dalam seluruh konteks adalah bagian dari usaha untuk memahami makna mantra yang sesungguhnya.
 Sastra lisan berupa mantra tersebut masih dapat hidup di tengah-tengah masyarakat pemiliknya dan masih tetap dipertahankan meskipun pada kenyataannya dunia semakin maju. Seiring dengan perkembangan zaman, bukan mustahil sastra lisan ini akan hilang tanpa bekas atau berbagai unsurnya yang asli sudah tidak dapat dikenali lagi.
Upaya pelestarian budaya daerah yang mulai tergeser oleh perkembangan teknologi, termasuk di dalamnya sastra lisan merupakan suatu hal yang sangat penting. Pentingnya sastra lisan ini disebabkan di dalamnya terkandung nilai pendidikan, nilai adat istiadat, nilai sosial masyarakatnya, selain nilai hiburan yang menggunakan bahasa daerah sebagai wahana pengungkapannya.
 
Support : Twitter | Facebook | My Blog
Copyright © 2013. Cowok Feminim - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modif Cowok Feminim
Proudly powered by Blogger