Kepulauan Maluku terdiri atas pulau-pulau
yang terletak antara pulau Sulawesi di barat dan pulau Papua di timur. Di
kepulauan Maluku berdiri kesultanan-kesultanan Islam yang sangat berjasa dalam menyebarkan
agama Islam di Indonesia Timur. Kesultanan yang terkenal adalah Ternate dan
Tidore. Di samping itu, masih ada beberapa kesultanan kecil yaitu Obi, Bacan,
Halmahera, dan Makyan.
Kesultanan Ternate dan Tidore adalah
dua kesultanan yang makmur. Keduanya aktif dalam mengembangkan dakwah Islam.
Islam dapat tersebar dan dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Maluku sampai
ke Papua bagian barat berkat jasa dua kesultanan ini. Ketenangan dan
ketenteraman Ternate dan Tidore terusik ketika bangsa Barat datang ke wilayah
ini. Bangsa Eropa yang pertama kali datang ke wilayah Maluku adaIah Portugis dan
Spanyol. Bangsa Portugis dan Spanyol adalah bangsa yang pernah dijajah oleh
orang Islam Arab pada abad ke-8 sampai dengan abad ke- 15. Ketika Portugis dan
Spanyol menjumpai Islam di Maluku maka sikap dendam dan permusuhannya muncul.
Perlu kita ketahui bahwa dorongan
Portugis pergi ke dunia Timur tidak persis sama dengan Belanda dan Inggris.
Jika Belanda dan Inggris lebih dimotivasi mencari rempah-rempah demi
mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar, Portugis dan Spanyol membawa semboyan
Gold, glory and gospel atau Emas, Kejayaan, dan Agama.
Artinya Portugis dan Spanyol
dalam membawa misi: mencari emas atau uang sebanyak-banyaknya, ya mendapatkan
kemasyhuran sebagai bangsa hebat tak terkalahkan, dan menyebarkan ajaran Agama
Kristen.
Di Maluku, Portugis mendekati
Ternate sedangkan Spanyol mendekati Tidore. Di smi Portugis dan Spanyol
terlibat bersekongkol untuk membuat kedua kesultanan ini berperang. Portugis
seolah membantu Ternate dan Spanyol juga seolah-olah membantu Tidore.
Peperangan antara kedua
kesultanan tersebut membuat keduanya lemah. Akhirnya kedua kesultanan tersebut
masing-masing tergantung pada Portugis dan Spanyol: Ternate pada Portugis dan
Tidore pada Spanyol.
Dalam perkembangan berikutnya Portugis
makin mendikte Ternate. Sultan Hairun, penguasa Ternate tidak dapat menerima
sikap Portugis yang ikut campur terhadap kebijakan Ternate. Sultan Hairun
akhirnya melawan Portugis. Pasukan Ternate yang dibantu oleh rakyat dapat mendesak
Portugis. Dalam kondisi terdesak Portugis minta diadakan perundingan di benteng
Sao Paulo. Akhirnya keduanya sepakat untuk berunding. Delegasi Ternate dipimpin
langsung oleh Sultan Hairun sedangkan delegasi Portugis dipimpin oleh Gubernur
Portugis di Maluku, De Mosqitar. Akan tetapi, ketika perundingan tengah
berlangsung tiba-tiba masuk pasukan Portugis dan menangkap Sultan Hairun lalu
membunuhnya. Perbuatan Portugis seperti ini merupakan perbuatan biadab yang
tidak sesuai dengan etika politik dan pergaulan mana pun di dunia.
Perbuatan biadab Portugis tersebut
membuat marah seluruh rakyat Maluku. Putra Sultan Hairun, sultan Baabullah
melawan Portugis mati-matian. Rakyat Ternate membantu Sultan dengan semangat
yang menyala-nyala. Bahkan Sultan Nuku dan Tidore yang pernah angkat senjata
melawan Ternate akibat provokasi Spanyol kali ini membantu Ternate melawan
Portugis. Dengan adanya perlawanan serempak dan seluruh rakyat Maluku akhirnya
Portugis hengkang dari Maluku.

ini pelajaran saya waktu SMP, tapi saya diingatkan kembali di sini, trims sob udah berbagi artikelnya :)
BalasHapus